Piknik Singkat di Pusat Kota Jogja: Menyusuri Malioboro, Naik Becak ke Keraton, dan Transit Kereta Bandara YIA
Akhirnya, saya berhasil menapakkan kaki kembali di kawasan Malioboro dan Titik 0 KM Jogja pada momen mudik bulan Mei dan awal Juni 2026 ini. Perjalanan kali ini terasa semakin istimewa karena saya berkesempatan untuk bertemu dengan teman lama semasa bekerja di Malaysia dulu, tepatnya saat kami sama-sama mengadu nasib di kilang atau PT AIWA Johor, Malaysia.
Tepat pukul dua siang, saya dan teman saya sepakat untuk bertemu di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Untuk menghadiri pertemuan ini, saya berangkat dari rumah di daerah perbukitan Samigaluh, Kulon Progo, tepat di tengah hari. Setelah menghabiskan waktu beberapa hari di kampung halaman bersama orang tua, saya akhirnya meluncur ke pusat Kota Jogja untuk sekadar jalan-jalan santai.
Bagi saya, momen pulang kampung atau liburan adalah waktu terbaik untuk memanjakan diri, berkumpul dengan orang tua, kerabat, serta teman-teman terdekat. Namun di samping itu, saya juga membutuhkan waktu khusus untuk menyenangkan diri sendiri dengan berjalan-jalan menikmati atmosfer pusat Kota Jogja sebelum waktu keberangkatan kembali ke tanah perantauan tiba.
Ritual Wajib ke Malioboro dan Kemudahan Akses Bandara YIA
Hampir setiap kali pulang kampung, saya selalu menyempatkan diri untuk berjalan-jalan ke Malioboro. Rasanya benar-benar belum lengkap pulang ke Jogja kalau belum menginjakkan kaki di kawasan legendaris ini. Menariknya lagi, saat ini dari Stasiun Kereta Api Yogyakarta (Stasiun Tugu) sudah tersedia layanan kereta bandara yang menghubungkan pusat kota langsung menuju Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) maupun rute sebaliknya.
Fasilitas transportasi ini tentu sangat memudahkan para pelancong (traveler) maupun warga lokal Jogja yang ingin mengambil jalan pintas jika hendak menuju ke Bandara YIA atau ke Kota Wates secara cepat. Kemudahan ini pula yang saya manfaatkan; karena keesokan harinya saya harus menaiki pesawat terbang untuk kembali ke Malaysia via Bandara YIA, saya memilih untuk bertolak menuju bandara menggunakan kereta api dari Stasiun Tugu, Yogyakarta.
Menikmati Sudut Kota dari Atas Becak Tradisional
Bagi saya pribadi, rasanya ada yang kurang jika berkunjung ke Malioboro tetapi belum menaiki becak kayuh tradisional. Biasanya, saya sengaja menyewa becak untuk mengantar saya menyusuri jalanan dari kawasan Malioboro menuju ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, lalu kembali lagi dan turun di sekitar Titik 0 KM Jogja. Di sepanjang perjalanan di atas becak tersebut, saya tidak melewatkan kesempatan untuk memotret suasana jalanan, yang hasilnya bisa Anda lihat langsung di dalam entri blog ini.
Dari deretan foto yang saya bagikan di entri ini, Anda bisa melihat dengan jelas bagaimana hiruk-pikuk suasana jalanan di pusat Kota Jogja, serta kemegahan bangunan Gapura Keraton yang berdiri dengan kokoh. Di sekitar pusat kota, tampak pula banyak pendatang dari luar daerah yang sedang berkumpul menikmati suasana, bahkan tidak sedikit pula wisatawan mancanegara (turis asing) yang ikut berbaur di sana.
Makna Sebuah Perjalanan dan Rasa Rindu pada Jogja
Ketika melakukan perjalanan (traveling), apa sih sebenarnya yang kita dapatkan? Bagi saya, jawabannya adalah sebuah kepuasan batin, kesempatan untuk menyegarkan pandangan (cuci mata), serta rasa syukur yang mendalam. Meskipun harus diakui, berjalan kaki ke sana kemari menikmati suasana Kota Jogja ini sukses membuat kaki terasa cukup capek.
Selain menikmati keindahan atmosfer Jogja, agenda saya di Malioboro sore itu juga diisi dengan berbelanja aneka kue dan makanan khas Jogja untuk dibawa sebagai buah tangan ke Malaysia. Kota Jogja memang selalu sukses menumbuhkan rasa kangen di hati para perantaunya, terutama karena keramahtamahan masyarakatnya yang tiada dua.





Post a Comment for "Piknik Singkat di Pusat Kota Jogja: Menyusuri Malioboro, Naik Becak ke Keraton, dan Transit Kereta Bandara YIA"
Post a Comment