BREAKING NEWS :
Loading...

Berfikir Rasional Bukan dengan Emosi dan Perasaan

Berfikir Rasional Bukan dengan Emosi dan Perasaan

Berfikir Rasional Bukan dengan Emosi dan Perasaan 

Judul entri ini nge-draf dari kemarin karena aku belum sempat untuk menulis kata-kata yang tersimpan di hati. Apa kabar sadara-saudaraku? Sukses, sehat, bisa dan sanggup menjalani hidup yang penuh tantangan adalah yang aku harapkan.

Banyak orang mengeluh tentang nasib yang kurang baik pada kehidupan mereka padahal itu hanya ujian dari Allah yang menguji seberapa besar tingkat keimanan umat-Nya. Iya Allah tidak menyukai hambaNya yang suka mengeluh.

Salah satu perbedaan sifat lelaki dan perempuan adalah bahwa lelaki lebih bisa berfikir menggunakan akal sehat, dan wanita selalu mendahulukan perasaannya. Apakah benar? Mungkin benar, tapi apakah di kenyataan buktinya selalu seperti itu? Relatif!

Aku menjumpai lelaki yang sudah dinasehati dan bisa dibilang kalau dia lebih banyak berfikir dengan perasaan daripada akal sehat dan logika. Aku selalu berfikir kenapa dia bisa seperti itu, dan jawabannya mungkin karena dia tidak bisa mencapai sesuatu yang diinginkan.

Aku adalah wanita dan dengan bertambahnya umurku, dengan bertambahnya pengalaman baik dan buruk, maka semua itu membuat aku lebih bisa berfikir dengan rasional, dengan logika, bukan dengan nafsu, emosi dan perasaan

Andai sesuatu yang tidak diinginkan datang dalam hidupku dan bisa menyebabkan emosi, aku selalu berusaha untuk menahannya. Cara menahan emosi ya dengan menarik nafas dalam-dalam, jangan langsung menanggapinya, tapi sebaiknya biarkan dulu selama beberapa second, menit sampai hati benar-benar tertata, tenang.

Aku selalu menghindari apa yang menyebabkan emosi andai penyebabnya adalah hal-hal tidak penting, yang berhubungan dengan gosip atau fitnah. Di dalam pergaulan, aku juga lebih suka bergaul dengan orang yang lebih bisa memberi energi positif dalam hidupku.

Terus bergaul dengan siapa? Iya dengan orang-orang yang juga bisa lebih berfikir dengan rasional, menggunakan rasio, logika, bukan dengan emosi dan perasaan. Tapi bukan berarti aku tidak mau bergaul dengan orang yang kadang mempengaruhi dengan hal negatif.

Tetap bergaul dengan mereka, tapi tetap membatasi, sewajarnya, seperlunya dan tidak ikut hanyut dengan pengaruh negatif, iya respect dan tetap confident. Terasa malas untuk mengingatkan atau menasehati orang yang keras kepala dan sudah berumur (contoh: orang yang umurnya 30 tahun ke atas). 

Syukur kalau khilafnya masih bisa diingatkan, tapi kalau tidak....capek sendiri. Tetaplah berpijak di bumi yang nyata! Tapi jangan berfikir bahwa menyadarkan orang itu mudah, keras kepala mungkin sudah gawan bayi.

Subscribe to receive free email updates: