Persahabatan yang Kekal: Saat Perbedaan Profesi Melebur dalam Reuni Spontan di Jogja
Hari ini, tanggal 4 Juni 2026, menjadi hari yang sangat berkesan bagi saya. Di sela-sela momen pulang kampung ke Jogja setelah sekian lama merantau di Malaysia, saya mendapatkan kesempatan berharga untuk bertemu kembali dengan teman-teman sekolah sesama alumni SPG PGRI (1990).
Pertemuan ini menjadi ruang perjumpaan yang luar biasa setelah sekian lama kami terpisah sejak lulus sekolah hingga sekarang. Kami bertemu atau mengadakan reuni di Restoran atau Rumah Makan Dadap Sumilir yang beralamat di Jl. Raya Kaligesing, Tileng, Pendoworejo, Kec. Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55674.
Pertemuan ini sebenarnya sama sekali tidak direncanakan jauh-jauh hari, melainkan diadakan secara mendadak. Kebetulan, banyak teman alumni yang memang bekerja dan menetap di kampung halaman alias tidak merantau.
Namun, bagi teman-teman yang merantau karena berbagai urusan dan belum bisa pulang kampung, mereka terpaksa absen dalam perjumpaan ini. Beberapa sahabat kami diketahui merantau cukup jauh ke Kalimantan, Jawa Barat, Sumatra, dan wilayah lainnya, sehingga jarak membuat mereka belum bisa menghadiri pertemuan spontan yang kami adakan sore tadi.
Walaupun serba mendadak, pertemuan ini berhasil mengumpulkan 11 orang, yang terdiri dari 5 orang perempuan dan 6 orang laki-laki. Jumlah ini terhitung lumayan banyak jika dibandingkan dengan kehadiran pada pertemuan-pertemuan sebelumnya yang relatif lebih sedikit. Bagi teman-teman alumni SPG PGRI 1990 yang belum sempat hadir kali ini, semoga di pertemuan selanjutnya diberikan kesempatan dan waktu untuk berkumpul bersama.
Duka di Tengah Hangatnya Pertemuan
Di balik kebahagiaan bisa berkumpul kembali, baru-baru ini kami sebenarnya sedang diselimuti rasa duka yang mendalam. Kami kehilangan salah satu teman laki-laki terbaik kami (Pak FX.Supriyatno) yang telah berpulang ke pangkuan Tuhan karena sakit. Rasa duka itu tentu ada, namun kami sadar bahwa hal tersebut sudah menjadi takdir Allah yang harus diikhlaskan dengan lapang dada.
Teman kami yang telah berpulang ini adalah sosok yang luar biasa. Di grup WhatsApp, dia selalu tampil ceria, kerap memberikan masukan yang positif, dan selalu menaruh rasa hormat kepada seluruh anggota grup. Sayangnya, keceriaan itu kini telah tiada. Kami semua benar-benar terkejut saat pertama kali mendengar kabar duka tersebut, sebab belum lama sebelumnya dia masih sempat aktif memberikan komentar di grup WhatsApp kami.
Nostalgia Masa Remaja dan Dewasa dalam Berpikir
Berkat kemudahan teknologi yang semakin maju saat ini, ada banyak hikmah positif yang bisa kita petik. Teknologi memudahkan kita semua untuk selalu berkomunikasi, menjaga kebersamaan, dan menyambung tali silaturahmi agar jalinan persahabatan ini tidak terputus, melainkan tetap terjaga dengan baik dan kekal.
Lantas, apa sih asyiknya berkumpul seperti ini? Bagi kami, momen berkumpul adalah waktu di mana kami bisa saling bercanda ria dan mengingatkan kembali hal-hal konyol yang pernah terjadi di zaman sekolah dulu. Masa-masa remaja saat pikiran kami masih murni hanya fokus pada pelajaran sekolah.
Banyak sekali cerita masa lalu yang kami bahas kembali saat duduk bersama. Tentu saja, kini segalanya telah berubah seiring dengan bertambahnya usia. Kami jelas sudah bertambah dewasa dan semakin matang dalam berpikir dibandingkan dengan masa-masa di sekolah dulu. Apalagi setelah lulus, kebanyakan dari kami langsung berpisah jalan demi mengadu nasib dengan garis hidup yang berbeda-beda.
Melebur Tanpa Sekat dan Jabatan
Saat ini, kami semua memiliki profesi dan pekerjaan yang sangat beragam. Karena latar belakang sekolah kami berada di bidang keguruan, banyak di antara teman-teman yang sukses menjalani profesi sebagai guru, menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), bahkan ada beberapa yang sudah menjabat sebagai kepala sekolah. Di samping itu, ada juga yang dulunya bekerja di sektor swasta dan saat ini sudah purna tugas, lalu fokus mengurus rumah tangga, menjalankan bisnis kecil-kecilan, atau bahkan sukses berwiraswasta.
Namun bagi kami, perbedaan profesi tersebut sama sekali tidak pernah menjadi penghalang kebersamaan dalam bersahabat dan bersilaturahmi. Ketika kami duduk bersama, kami merasa sama dan sederajat, seakan-akan kami masih berada di bangku sekolah SPG dahulu. Tidak ada formalitas kaku saat kami berjumpa; semuanya mengalir begitu santai tanpa adanya perbedaan kasta.
Memang benar, mereka yang berprofesi sebagai guru adalah guru ketika berada dan mengajar di lingkungan sekolah. Profesi adalah bagian dari pekerjaan mereka, tetapi di luar jam sekolah, kami semua sama saja. Kami adalah teman, saudara, dan sahabat yang selalu mengutamakan nilai kebersamaan serta silaturahmi.
Menghapus Rasa Sungkan demi Menjaga Persahabatan
Saya selalu berharap jangan pernah ada rasa sungkan di antara kami ketika bertemu, meskipun status sosial atau profesi kami berbeda-beda. Sebab, di antara kami pun ada juga yang statusnya belum bekerja atau menganggur, sama seperti saya sendiri yang saat ini juga seorang pengangguran. Rasa sungkan hanya akan menjadi benteng yang menghalangi ketulusan persahabatan, jadi alangkah baiknya jika ego dan rasa sungkan tersebut kita hilangkan.
Sekali lagi, untuk teman-teman yang sore tadi berhalangan hadir, semoga di lain kesempatan kita bisa dipertemukan kembali. Walaupun belum bisa bertatap muka secara langsung, jangan biarkan jarak menjadi penghalang untuk terus menjalin persahabatan.
Selain lewat pertemuan fisik, kebersamaan kita sebenarnya tetap bisa dirawat setiap hari di dalam grup WhatsApp dengan saling menyapa yang penuh canda dan tawa. Kami sangat memahami kondisi teman-teman yang berada jauh di perantauan dan belum bisa mudik untuk berkumpul, begitu pula dengan teman-teman yang jaraknya dekat namun terpaksa berhalangan hadir karena ada urusan penting yang mendesak dan tidak bisa ditinggalkan. Persahabatan ini akan tetap ada, hari ini, esok, dan seterusnya.




Post a Comment for "Persahabatan yang Kekal: Saat Perbedaan Profesi Melebur dalam Reuni Spontan di Jogja"
Post a Comment