Pindah Negara Demi Kenyamanan? Ini Sisi Nyata Kehidupan Luar Negeri yang Jarang Diungkap

Pindah Negara Demi Kenyamanan? Ini Sisi Nyata Kehidupan Luar Negeri yang Jarang Diungkap


Akhir-akhir ini, saya sering sekali berselancar di Threadsmedia sosial yang masih satu naungan dengan Instagram dan Facebook. Ternyata, beranda (home) Threads kini dipenuhi oleh pengguna yang memanfaatkan berbagai lini masa (feeds) untuk mencurahkan isi hati mereka mengenai beragam masalah.

Salah satu topik yang sedang hangat diperbincangkan adalah curhatan para Warga Negara Indonesia (WNI) yang berkeinginan pindah menjadi Warga Negara Asing (WNA). Pemicunya tidak lain karena melihat situasi di Indonesia saat ini, termasuk nilai tukar rupiah yang kian merosot terhadap mata uang asing seperti Dolar AS (USD), Dolar Singapura (SGD), maupun Ringgit Malaysia.

Dampak krisis ini membuat mayoritas masyarakat mengeluh karena harga barang-barang semakin mahal, terutama produk impor. Kondisi tersebut tentu menjadi beban berat bagi masyarakat luas. Entah apa penyebab pastinya, dan jujur saja, saya pribadi malas membahasnya jika sudah mulai dikaitkan dengan ranah politik.

Pada dasarnya, setiap negara pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Keterpurukan ekonomi saat ini pun hampir terjadi secara global; ada negara yang dampaknya sangat parah, ada pula yang tidak terlalu kentara. Namun intinya, krisis global tengah melanda seluruh dunia. Semua itu kini tergantung pada bagaimana pemerintah masing-masing negara mengatasinya. Bagi rakyat kecil seperti saya, fokus utama adalah tetap berkarya dan bekerja mencari nafkah agar bisa bertahan hidup.

Sebagai masyarakat biasa, kunci utama menghadapi krisis global saat harga bahan pokok melambung tinggi adalah kepintaran dalam mengelola keuangan. Namun, banyak pengguna Threads yang mencurahkan rasa putus asa mereka untuk tetap tinggal di Indonesia. Mereka mendambakan pindah ke negara yang lebih maju demi kehidupan yang dirasa lebih nyaman.

Realitas Menjadi WNA: Tidak Semudah Membalikkan Telapak Tangan

Saya sering membaca kolom komentar dari para mantan WNI yang kini telah resmi menetap dan menjadi warga negara di Australia, Belanda, Singapura, Korea, Jepang, Jerman, hingga Malaysia selama bertahun-tahun. Jalur yang paling umum dan relatif mudah untuk berpindah kewarganegaraan biasanya adalah melalui pernikahan dengan warga negara setempat, atau karena faktor pekerjaan di luar negeri yang telah memenuhi syarat administratif.


Pindah Negara Demi Kenyamanan? Ini Sisi Nyata Kehidupan Luar Negeri yang Jarang Diungkap


Bagi sebagian WNI yang hanya membayangkan bahwa hidup di luar negeri itu selalu enak, pemikiran tersebut sebenarnya sangat relatif. Bagi mereka yang memiliki modal finansial besar dan karier yang cemerlang, perpindahan ini tentu bukan masalah besar dan segala prosesnya akan berjalan mulus. Namun, bagi masyarakat dengan ekonomi rata-rata, proses menuju ke sana sama sekali tidak mudah.

Untuk orang biasa, hidup di luar negeri dan memulai proses perpindahan kewarganegaraan sejak awal membutuhkan perjuangan yang panjang serta biaya yang tidak sedikit. Dokumen visa harus diurus secara bertahap, mulai dari visa 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun, dan seterusnya, hingga akhirnya memenuhi kualifikasi menjadi WNA. Proses birokrasinya pun menuntut kita untuk bolak-balik ke kantor imigrasi dan kedutaan dengan membawa persyaratan yang sangat ketat. Jika ada satu saja syarat yang kurang, prosesnya akan terhambat; sebaliknya, jika semua lengkap, barulah urusan bisa berjalan lancar.

Ujian Mental dan Rasa Rindu Kampung Halaman

Berdasarkan pengalaman yang saya alami sendiri, salah satu cobaan terberat menjadi perantau di negeri orang adalah jauh dari orang tua, keluarga, dan teman-teman. Ada pepatah yang mengatakan bahwa seindah-indahnya hidup di luar negeri, tetap lebih nyaman hidup di tanah kelahiran sendiri—meskipun tentu saja setiap orang memiliki prinsip hidup yang berbeda.

Satu-satunya hal yang membuat bertahan adalah fakta bahwa mencari nafkah di luar negeri terkadang tidak sesulit di Indonesia. Hal inilah yang menjadi alasan terkuat bagi kebanyakan orang untuk menetap dan pindah warga negara.


Pindah Negara Demi Kenyamanan? Ini Sisi Nyata Kehidupan Luar Negeri yang Jarang Diungkap


Kendati demikian, hidup di negeri orang menuntut kita untuk memiliki mental baja. Ketika menghadapi masa-masa sulit, kita harus menyelesaikannya sendirian, mencari solusi sendiri, dan dituntut mandiri demi bertahan hidup. Jika masih bermental lemah, sebaiknya urungkan niat untuk menjadi WNA yang prosesnya sangat kompleks ini.

Rindu Kuliner Indonesia dan Hangatnya Pertemuan Sesama Merantau

Saya juga sering melihat unggahan di Threads yang membahas betapa berbedanya makanan di luar negeri dengan kuliner khas Indonesia yang terkenal lezat, seperti bakso, mi ayam, bebek goreng, hingga pecel lele.

Menariknya, ketika kita berada di luar negeri dan tidak sengaja bertemu dengan sesama orang Indonesia—meskipun tidak saling kenal—rasanya seperti bertemu dengan saudara sendiri. Kita bisa langsung mengenali mereka hanya dari gaya bicara dan logat bahasa Indonesianya yang khas.

Pengalaman ini sering saya alami saat sedang berada di Malaysia atau Singapura. Ketika melihat orang Indonesia yang sedang berwisata, kehadiran mereka langsung terasa dari cara mereka berkomunikasi. Intinya, menjalani kehidupan di luar negeri tidak pernah sesederhana yang dibayangkan oleh orang-orang yang belum pernah merasakannya sendiri.

Namun, sisi positif dari hidup di negara maju seperti Singapura, Malaysia, Jepang, dan sejenisnya memang sangat terlihat dari segi tata kota yang rapi, kedisiplinan masyarakatnya, serta sistem digitalisasi yang jauh lebih terintegrasi dibanding di tanah air. 

Semua hal tersebut baru bisa Anda buktikan dan rasakan sendiri secara nyata setelah Anda benar-benar menginjakkan kaki di luar negeri.

Post a Comment for "Pindah Negara Demi Kenyamanan? Ini Sisi Nyata Kehidupan Luar Negeri yang Jarang Diungkap"