Puluhan Tahun Merantau di Negeri Jiran: Cerita tentang Pilihan Hidup, Kerinduan, dan Rumah di Jogja
Saya adalah orang Jogja yang sudah lama sekali merantau, bahkan hingga puluhan tahun lamanya. Apa sih sebenarnya alasan yang membuat saya memutuskan untuk merantau? Faktor ekonomi jelas menjadi salah satu pemicu utama, namun di samping itu, sebenarnya ada banyak faktor lain yang ikut melatarbelakanginya. Sebelum akhirnya memutuskan untuk merantau ke luar negeri, saya sudah terlebih dahulu bekerja di Indonesia selama kurang lebih 3 tahun. Saya pernah bekerja di sebuah PT yang berlokasi di Jakarta dan juga sempat bekerja di sebuah swalayan di Jogja.
Sebenarnya, jika saya berminat dan mau, saya bisa saja berkarier menjadi seorang guru yang pada akhirnya berkesempatan diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Hal ini sangat memungkinkan karena selaras dengan latar belakang pendidikan saya di sekolah kejuruan tingkat SLTA yang memang mengambil jurusan keguruan. Namun dalam perjalanannya, saya menyadari bahwa saya tidak begitu tertarik untuk menjadi seorang pendidik.
Lantas, apa yang sebenarnya menjadi minat saya? Jika boleh jujur, saya mungkin lebih tertarik untuk bekerja di kantoran. Hanya saja, saat sekolah dulu saya agak salah dalam mengambil jurusan; seharusnya saya masuk ke SMA umum. Meski salah jurusan, nilai-nilai teori keagamaan dan keguruan saya selalu bagus, bahkan saya selalu berhasil mendapatkan peringkat teratas. Jadi, saya tidak terlalu bodoh-bodoh amat dalam hal akademik.
Pada zaman saya sekolah dulu, teknologi belum semaju sekarang. Kemajuan teknologi itu berproses dan bertahap hingga bisa secanggih saat ini, di mana akses internet sudah merata dan bisa dinikmati oleh semua kalangan dari kota hingga ke desa. Kini, internet telah menjelma menjadi media komunikasi utama sekaligus alat kerja yang membuat segala urusan menjadi jauh lebih mudah serta praktis.
Langkah Awal Menuju Malaysia
Setelah sempat mencicipi dunia kerja di Indonesia, saya mulai tertarik dengan peluang bekerja di pabrik atau PT yang ada di Malaysia. Saya pun mendaftarkan diri melalui Dinas Tenaga Kerja (Depnaker) resmi yang menyalurkan tenaga kerja ke Malaysia. Alasan utama yang membuat saya begitu tertarik ke Malaysia adalah karena standar gaji pekerja kilang atau PT di sana terhitung lebih tinggi dibandingkan dengan gaji pekerjaan serupa di Indonesia. Selain itu, saya memiliki tekad yang kuat untuk membantu meringankan beban serta menyokong kondisi keuangan orang tua. Tentu saja, seluruh proses tersebut tidak berjalan dengan mudah hingga saya bisa mencapai titik yang sekarang ini.
Tanpa terasa, saya justru keterusan tinggal dan menetap di Malaysia sampai saat ini. Selama merantau di sini, hampir setiap tahun saya selalu menyempatkan diri untuk mudik ke Yogyakarta, tempat tinggal orang tua sekaligus tanah kelahiran saya. Dalam setahun, saya bahkan bisa mudik ke Jogja antara satu hingga tiga kali. Hal itu saya lakukan karena rasa kangen yang membuncah kepada orang tua, keluarga, teman-teman, serta kerinduan mendalam pada kampung halaman.
Jogja yang Selalu Menggoda dan Perbandingan dengan Malaysia
Kampung halaman di Jogja itu rasanya sudah mendarah daging di dalam diri saya. Segala hal tentang Jogja selalu sukses membuat kangen, mulai dari suasananya, hingga keramahan khas Jogja beserta orang-orangnya. Jika boleh membandingkan, Malaysia bisa dibilang sebagai negara yang lebih maju, lebih tertib, dan lebih disiplin jika disandingkan dengan Indonesia atau Yogyakarta pada umumnya. Mungkin hal ini dikarenakan wilayah Malaysia yang secara geografis lebih kecil sehingga lebih mudah untuk ditata dan diatur, tidak sebesar wilayah Indonesia yang sangat luas. Namun kembali lagi, semua itu juga sangat bergantung pada bagaimana para pemimpin dalam mengatur negaranya. Karena saya hanyalah rakyat biasa, saya tidak terlalu ingin ikut campur dalam urusan negara maupun pemerintahan; fokus saya cukup menjadi warga negara yang taat dan mematuhi segala aturan yang telah dibuat oleh pemerintah.
Setiap kali mendapatkan kesempatan mudik ke Jogja, saya selalu menyempatkan diri untuk pergi berwisata (traveling) bersama teman-teman atau orang tua. Uniknya, ketika liburan usai dan saya harus kembali merantau ke Malaysia, saya selalu merasa kesulitan untuk langsung beranjak (move on). Pikiran saya masih sering terbayang-bayang oleh syahdu-nya suasana Jogja dan kehangatan kampung halaman. Biasanya, saya baru benar-benar bisa move on setelah menghabiskan waktu satu bulan lebih kembali di Malaysia. Bagaimanapun juga, masih banyak kewajiban dan tanggung jawab yang harus saya selesaikan di Malaysia, termasuk kewajiban utama untuk terus meringankan beban orang tua saya di Indonesia.
Memulai Kembali dari Awal
Sebenarnya, jarak antara Malaysia dan Yogyakarta tidaklah terlalu jauh. Jika kita menggunakan pesawat dengan penerbangan langsung (direct flight) dari Kuala Lumpur atau Singapura, waktu tempuh yang dibutuhkan hanya berkisar kurang lebih 3 jam saja. Jalinan komunikasi dengan teman-teman, saudara, dan yang paling utama dengan orang tua pun tetap saya jaga dengan baik setiap hari agar kedekatan itu tetap terasa nyata meski raga saling berjauhan.
Nah untuk saat ini, berhubung saya baru saja menyelesaikan momen mudik ke Jogja, artinya saya harus bersiap untuk memulai kembali semuanya dari nol. Saatnya kembali menata ritme kehidupan di Malaysia, fokus menabung (saving money), hingga akhirnya bisa mulai menyusun rencana (planning) matang untuk kembali mudik ke YOGYAKARTA, kampung halaman tercinta.






Post a Comment for "Puluhan Tahun Merantau di Negeri Jiran: Cerita tentang Pilihan Hidup, Kerinduan, dan Rumah di Jogja"
Post a Comment