Nostalgia Gunung Kucir: Dari Legenda Gunung Kembar Samigaluh Hingga Syahdunya Bale Bungah
Pertengahan tahun 2026 ini, saya berkesempatan untuk pulang ke kampung halaman yang terletak di daerah pegunungan Yogyakarta, tepatnya di Kapanewon Samigaluh. Di salah satu wilayah kelurahannya, yaitu Kalurahan Banjarsari, terdapat sebuah gunung kembar legendaris yang bernama Gunung Kucir.
Pada zaman dahulu, sebelum teknologi berkembang pesat seperti sekarang, Gunung Kucir selalu ramai dipadati oleh orang-orang yang ingin mendaki ke sana, terutama setiap momen Hari Raya Idulfitri. Ada juga sebagian orang yang mendaki pada hari libur biasa, tetapi jumlahnya tidak pernah sebanyak saat Lebaran tiba.
Itulah potret masa lalu, di era saat internet belum lahir, di mana hiburan masyarakat barulah sebatas radio transistor, dan sepeda motor masih menjadi barang mewah yang jarang dimiliki oleh kebanyakan orang. Pada masa itu, motor hanya dimiliki oleh mereka yang benar-benar mampu membelinya, sementara mayoritas masyarakat di daerah pegunungan masih terbiasa berjalan kaki hingga berkilo-kilo meter untuk menuju ke mana pun.
Garis waktu tersebut terjadi kira-kira sebelum tahun 1991. Setelah lewat masa itu, kemajuan teknologi secara perlahan mulai merambah ke berbagai lini. Bagi masyarakat di Yogyakarta, khususnya mereka yang kini sudah berusia 40 tahun ke atas, nama gunung legenda ini tentu sudah tidak asing lagi di telinga. Sebaliknya, generasi muda zaman sekarang pasti tidak mengenali Gunung Kucir karena memang mereka belum lahir pada masa kejayaannya.
Wajah Baru di Bawah Kaki Gunung Legenda
Seiring berjalannya waktu, kondisi Gunung Kucir kini telah berubah menjadi sepi dan tidak ada lagi orang yang mendaki ke atasnya. Namun, ada daya tarik baru di bawah kaki gunung tersebut. Tepat di sebelah baratnya, kini telah berdiri sebuah kafe, restoran, sekaligus tempat makan yang dilengkapi dengan fasilitas penginapan glamping mewah bernama Bale Bungah.
Lokasi Bale Bungah ini tidak jauh di sebelah barat Gunung Kucir. Jika Anda datang dari arah timur, posisinya berada di sebelah kanan jalan dan ditandai dengan plakat bertuliskan "BALE BUNGAH" yang cukup jelas.
Saya sendiri sempat berkunjung ke sana karena diajak oleh seorang teman yang kebetulan mengenal baik sang pemilik kafe—yang juga merupakan orang asli Yogyakarta. Nah bagi Anda yang penasaran dan tertarik untuk berkunjung ke sana, rutenya cukup mudah. Dari jalan besar, Anda hanya perlu masuk sekitar 10 menit menggunakan kendaraan menuju ke arah Gondosuli. Posisi kafenya nanti akan terlihat tepat di sebelah kiri jalan.
Daya Tarik Bale Bungah: Dingin, Asri, dan Istimewa
Apakah Bale Bungah ini menarik? Jika mengacu pada foto-foto yang banyak dibagikan oleh para pengunjung di media sosial, kafe ini memang menyuguhkan pemandangan (view) yang sangat menawan—persis seperti deretan dokumentasi foto yang saya sertakan dalam entri blog kali ini. Berdasarkan pengalaman pribadi saya yang sudah datang langsung, tempat ini memang sangat memikat. Keadaannya bersih, para petugasnya ramah, lanskapnya indah, serta makanannya lezat dengan variasi menu tradisional hingga modern yang menarik dan disukai banyak orang.
Bale Bungah sangat cocok dijadikan sebagai tempat untuk bersantai, mengadakan pertemuan dengan teman, berkumpul bersama keluarga, ataupun menghabiskan waktu dengan orang tersayang. Hawa udaranya yang dingin sepanjang waktu karena berada di kawasan pegunungan membuat suasana terasa sangat nyaman dan asri, lengkap dengan pasokan udara alami tanpa kontaminasi polusi.
Bagi para pencinta fotografi, tempat ini juga sangat mendukung untuk berfoto ria karena memiliki latar belakang panorama pegunungan yang menakjubkan. Di pagi hari, Anda bisa berburu foto matahari terbit (sunrise), dan begitu pula di sore hari, pengunjung dapat berburu momen matahari terbenam (sunset) yang indah saat cuaca sedang cerah.
Fasilitasnya pun tergolong lengkap; terdapat area bermain (playground) untuk anak-anak, serta deretan bangku dan meja di bagian bawah yang bisa digunakan untuk sekadar duduk santai atau menggelar acara reuni. Untuk Anda yang sudah mulai merasa jenuh dengan atmosfer perkotaan yang panas dan penuh polusi, Bale Bungah di Samigaluh ini bisa menjadi tujuan pelarian yang sangat tepat untuk menenangkan pikiran.




Post a Comment for "Nostalgia Gunung Kucir: Dari Legenda Gunung Kembar Samigaluh Hingga Syahdunya Bale Bungah"
Post a Comment